Gatal

Kepalaku sakit.

Setiap kali aku sendirian, kepalaku sakit.

Aku ingin menumpahkan segalanya sejak lama, tapi tidak ada yang pernah berhasil. Aku ingin muntah, aku ingin berhenti, tapi yang menetes hanya air mata. Rasanya asin ketika menyentuh bibirku. Rasanya perih ketika sampai ke hatiku.

Sebulan terakhir ini aku tidak bisa tidur jika waktu belum menunjukkan pukul tiga subuh. Seringkali ketika aku terbangun, badanku gatal-gatal. Aku menggaruk dan terus menggaruk. Kulitku sampai memerah, beberapa bahkan mengelupas. Tapi rasa gatal itu sulit hilang. Aku sampai menangis. Hancur sekali rasanya. Isi kepalaku ikut gatal. Ingin rasanya kujambak rambutku sampai ke akar-akarnya–sampai aku menjadi botak, sampai aku menjadi seperti biksuni.

Terkadang di tengah isakanku yang tanpa suara, aku berpikir, “Bagian mana yang kusesali dalam hidup?”

Aku masih terlalu muda untuk memikirkan kematian–setidaknya itu yang orang-orang bilang padaku. Tetapi, nyatanya, seorang teman yang tidak kukenal namun sering kujumpai ketika berpapasan di lorong SMA dulu, meninggal di awal dua puluhan. Kalau memikirkan itu, badanku jadi semakin gatal. Hingga rasanya ingin berguling-guling di atas tumpukan salju. Supaya rasa perih akibat garukan ini tenggelam diselimuti hawa dingin, supaya air mata ini sekalian ikut membeku.

Terkadang pula, kalau pikiranku semakin kacau, aku teringat wajahmu. Dan tatapanmu yang tidak pernah bisa kubaca. Dan kata-katamu yang terus menggelitik telinga. Dan keangkuhanmu yang membuatku semakin tidak ingin berdusta. Bahwa jauh, jauh, jauh di dasar jurang hatiku yang paling pekat, aku menyimpan untaian perasaan yang tidak dapat kusampaikan.

Aku takut. Aku takut kalau aku menumpahkan semuanya–layaknya untaian manik-manik yang terlepas–segalanya akan berhamburan tak karuan. Aku takut sisa-sisa perasaan itu akan jatuh ke lantai, atau sebagian bersembunyi di dalam kolong yang gelap dan tak dapat kuraih, sedang engkau tidak peduli untuk membantuku memungutnya.

Aku takut.

Takut.

Takut sekali.

……

Uh. Badanku gatal-gatal lagi.

Advertisements

Mungkin Tidak

Aku masih tidak bisa tidur.

Mungkin tidak malam ini. Mungkin juga iya.

Tapi begitu mengingat wajahmu, dan kata-kata pedihmu, jantungku kembali berdetak lebih kencang. Lebih, lebih dari biasanya.

Kuingat pertama kali saat ku berkata lantang di hadapanmu bahwa aku ingin menjadi seorang penulis. Penulis… apa sajalah. Yang jelas aku ingin bercerita. Bercerita semua yang seharusnya, yang kira-kira seharusnya, dan yang tidak seharusnya. Sorot matamu memberi kesan menyimak, tak dapat dipungkiri aku bahagia. Aku hanya ingin menulis. Dan semuanya akan usai.

Tetapi setelah sekian lamanya kita berada di bawah langit yang sama, sepertinya hujan lebih menyukaiku ketimbang dirimu. Bahkan hingga kini. Aku mengetik ini di tengah hujan pula, asal kau tahu, dan di tengah malam, agar kuharap juga kau membacanya, dan mengerti bagaimana rasanya menyimpan kecamuk terhadap dinding yang membatasi radarku untuk membacamu.

Continue reading

Cat Air Pertamaku

Karena terlalu lama tidur dapat membuat otakku tumpul,

karena terlalu lama sendirian dapat membuat hatiku membusuk,

aku memutuskan untuk berbicara dengan cat air pertamaku.

 

Isinya terdiri dari dua belas tube. Cat air sederhana yang bisa didapat dengan harga murah jika mau menyisihkan lima ratus perak selama seminggu. Warnanya tidak terlalu menyala, pun teksturnya yang sangat tidak menyenangkan untuk dipoles di atas selembar kertas gambar bekas–dua hal yang membuatku sadar bahwa cat air ini palsu.

Sebagai anak berusia enam tahun, seharusnya aku menghabiskan masa kecilku dengan bermain petak umpet atau berlari mengejar teman-teman sebayaku sambil berteriak kencang hingga kerongkonganku tercekat. Namun pada akhirnya aku malah lebih sering bermain guru-guruan bersama boneka-bonekaku. Hingga akhirnya aku muak dengan kesendirianku, lalu aku memutuskan untuk bermain-main dengan cat air (palsu) pertamaku.

Aku tidak ingat gambar pertamaku. Tapi aku ingat bau cat air yang menguar saat itu. Aku menyukai baunya, juga membencinya di saat yang bersamaan. Sebab rasanya seperti aku punya teman baru, tetapi teman baruku itu palsu.

Continue reading

Matinya Citrawati

“Aku mencintaimu, Sumantri.”

Sumantri hanya bisa diam. Ditatapnya gadis itu lekat-lekat. Hatinya bergejolak, kedua tangannya mengepal. Adalah tabu jika ia memperlihatkan isi hatinya. Sebab ia adalah jelmaan Sukasrana, iblis bermata merah yang dianggap membahayakan Desa Argasekar.

Menjadi pengawal pribadi cucu dari tetua desa memberi kesempatan baginya untuk melamar Citrawati, cucu tetua desa sebelah. Namun, alangkah terkejutnya ia ketika tahu bahwa sahabatnya, Arjuna Sasrabahu, sekaligus orang terhormat yang selama ini ia abdi juga memiliki rasa yang sama.

“Pernikahan politik, orang-orang bilang,” katanya. “Tapi aku tak peduli. Aku mencintainya,” lanjut Arjuna Sasrabahu sambil tersenyum bahagia.

Malamnya, Sumantri diam-diam pergi menuju kediaman Citrawati. Mereka kabur. Tetapi ketika telah sampai di perbatasan, ia tiba-tiba teringat akan kebaikan sahabatnya. Ia pun memutuskan untuk membawa pulang Citrawati. Namun di tengah perjalanan, mereka malah bertemu Arjuna Sasrabahu yang sedang dalam perjalanan hendak melakukan kunjungan malam dengan keluarga Citrawati. Terkejut, ia pun langsung melayangkan parangnya dan menancap tepat di dada Sang Arjuna.

Sejak saat itu, penampilannya berubah menjadi iblis Sukasrana.

Anehnya, Arjuna Sasrabahu tidak melihatnya demikian.

“Malam itu… bukan engkau, kan?” tanya Sang Arjuna masih tak percaya.

Sumantri menunduk. Bahunya bergetar.

“Haruskah hamba meminta maaf saja… atau mengakuinya?”

Sejak saat itu, tak ada lagi nama Citrawati di antara percakapan mereka.

Sensitif

Dalam tiga bulan terakhir ini saya berubah menjadi anak yang sensitif.

Saya melewatkan sarapan, makan siang, terkadang tidak makan sama sekali. Atau tidak minum sama sekali di pagi hari. Jadi, bangun tidur saya langsung mandi dan berangkat ke kampus.

Orang-orang bilang akhir-akhir ini saya mengurus. Dokter bilang saya stres.

Continue reading